Kamis, 09 Januari 2014 - 22:25:10 WIB
Guru dan Orangtua Jangan Alergi Novel Chiclit dan Teenlit
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita SMAN 1 - Dibaca: 1236 kali

Guru dan orangtua terjebak pada kesan sampul bahwa novel-novel remaja yang masuk genre chiclit dan teenlit sebagai novel tidak mendidik dan mengandung pesan negatif. Kenyataan yang sesungguhnya novel-novel anak remaja tersebut mengandung semangat menggugat atau pun gerakan perlawanan budaya.

Dosen Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Redyanto Noor menyatakan para guru dan orangtua perlu membaca novel-nvel anak muda tersebut, jangan melarang anak atau mengkritik isi novel tidak baik sebelum memahami kontennya.

Dia menyelamati pandangan 300 remaja siswa SMP dan SMA di Pulau Jawa dan meneliti 134 judul novel dalam empat novel chicklit dan teenlit asli Indonesia yang terbit selama periode 2000-2005. Misalnya novel Dealova, Me vs High Heels, Nggak Usah Jaim Deh, Fairish. Dari empat contoh novel tersebut, dia mengemukakan kesannya bahwa konten novel-novel tersebut sangat bermanfaat sebagai sarana pengembaraan spiritual remaja dalam menemukan jati diri menuju kedewasaan.

Dalam disertasi untuk meraih doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM tersebut, dia menekankan novel-novel remaja tersebut menjadi jembatan komunikasi dengan guru dan orangtua andaikata guru dan orangtua tidak alergi terhadap novel-novel itu. Pesan yang terselip bahwa novel chicklit dan teenlit menyediakan kebebasan berekspresi dan bergaya dalam ruang cerita bagi remaja, identifikasi diri, aktualisasi diri.

“Isi novel-novel chiclit dan teenlit bagi remaja pembacanya merupakan cerminan refleksi dirinya, sementara novel itu bagi uru adalah gambaran tentang impian siswa atau anak mereka tentang kejujuran dan kesederhanaan,” kata dia Kamis (9/1/2014)

Ketika guru dan orangtua mau “menggauli” novel chiklit dan teenlit, mereka akan berkembang menjadi sosok yang gaul dan tahu perkembangan sosial dan teknologi dengan setting era globalisasi. Novel-novel remaja itu berpesan bagaimana sebaiknya menjadi remaja, guru, orangtua era globalisasi yang kapitalistik, tanpa terjebak hedonism dan konsumerisme.

Ketika guru dan orangtua melawan atau resisten dengan situasi sosial baru yang tergambar dalam novel yang oleh remaja dijadikan sebagai gambaran ideal hidup mereka, maka para remaja akan berbalik menjadi resisten dan berontak kepada guru dan orangtua. Maka novel-novel itu menjembatani bagaimana berbudaya bagi anak remaja dan bagaimana guru dan orangtua menghampiri anak-anak kandung dan anak-anak didik.

“Novel chicklit dan teenlit menebar peringatan tentang sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan dunia remaja, yang dipengaruhi oleh sistem norma masyarakat, norma pendidikan di sekolah, pola interaksi keluarga dan yang lainnya.” (A-84/A-147)***

 

Sumber http://www.pikiran-rakyat.com/node/265404 








    adminsman1

    infosman1


      Apakah anda meyukai tampilan terbaru web SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan ?

          Tidak
          Ya

      Lihat Hasil Poling
    Copyright © 2013 by sman1kotatangsel.com. All rights reserved.