Kamis, 05 Maret 2015 - 10:42:18 WIB
Komersialisasi Pendididkan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita SMAN 1 - Dibaca: 412 kali

Oleh: Nakisul Ulum 

Zaman modern ini dunia pendidikan mulai menjadi perhatian publik yang kini sedang ditingkatkan di Indonesia, karena sudah termaktub di dalam UUD 1945 dengan jelas dalam alenia ke-4 bahwa pemerintah dalam hal ini ikut serta dalam mencerdaskan bangsa. Pendidikan di Indonesia pada saat ini mulai melakukan pembenahan yang signifikan. Mulai dari program wajib belajar 12 tahun, pengesahan sekolah, perguruan tinggi swasta menjadi negeri dan masih banyak pula yang lainnya. Pemerintah sudah memberikan peluang bagi anak bangsa agar memperoleh pendidikan yang layak meskipun belum sepenuhnya terwujud. Patut kita apresiasi upaya-upaya yang telah digulirkan oleh pemerintah pusat untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, apakah hal demikian sudah terlihat di daerah-daerah?

Kita lirik pendidikan di Provinsi Banten. Kini prestasinya dalam hal pendidikan sangatlah jauh dibandingkan dengan provinsi lainnya. Padahal secara letak georafis Banten sangatlah dekat dengan ibukota Indonesia. Namun mengapa terjadi hal demikian? Indikator apa yang menjadi kendala hingga saat ini Banten belum mampu mengangkat prestasi pendidikannya secara signifikan? Sedangkan biladilihat dari data yang ada menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011 lalu tercatat sebanyak 312.409 dari 604.812 anak usia 16-18 tahun di provinsi Banten tidak bersekolah. Hal tersebut diperkuat pula dengan data kemiskinan dari sumber yang sama pada tahun 2013 tercatat 288733 penduduk miskin di provinsi Banten.

Tampaknya prestasi buruk pendidikan di Banten akan terus meningkat dan diperparah dengan maraknya komersialisasi pendidikansebab selalu dijadikan lahan bisnis yang sangat menggiurkan bagi kalangan borjuis. Bagaimana tidak? Peserta didik saat ini dipungut biaya yang selangit tetepi yang mereka peroleh tidak sebanding dengan biaya yang ia keluarkan. Kelembagaan hanya memberikan pelayanan sekadarnya saja, padahal peserta didik membutuhan kualitas pendidikan yang benar-benar mumpuni agar kelak mereka keluar dari dunia pendidikan merasa puas dengan apa yang diperolehnya. Sehingga dapat dirasakan di dunia kerja dan memperoleh ilmu yang berkompetensi tinggi bukan yang seadanya. Karena hasil dari proses belajar akan tercermin dari prestasi yang diraihnya.Masalah pendidikan yang belum terselesaikan saat ini yaitu soal biaya pendidikan yang masih sangat mahal sehingga masyarakat kecil merasa kesulitan untuk membiayai pendidikan dan bahkan enggan untuk mengenyam dunia pendidikan dibangku sekolah. Ini jelasdiakibatkan banyaknya pungutan biaya dari peserta didik oleh pihak penyelenggara pendidikan untuk digunakan dengan berbagai alasan keperluan proses pembelajaran, ataupun hal lainya. Lebih ironisnya peserta didik dibebankan untuk menanggung biaya bangunanyang jumlahnya sangat besar.Bahkan kalau dikalkulasikan biaya yang dikeluarkan oleh peserta didik melebihi dari kata sangat cukup. Baikdari pendidikan lembaga negeri, terlebih lembaga swasta (baca: yayasan) yang sejatinya yayasan didayaguna untuk berlangsungnya kebermanfaatan bersama yang bertujuan untuk saling membantu mencerdaskan anak bangsa bukan sebaliknya. Realitas yang ada pada saat ini mencerminkan kemerosotan dunia pendidikan yang ada Indonesia, khususnya provinsi Banten.

Mari kita lihat indikator komersialisasi pendidikan itu terjadi didalamnya.

1. Biaya yang terlalu tinggi dan tidak transparan

Bila lembaga pendidikan menargetkan pembayaran dengan biaya selangit tapi kenyataan realisasinya nihil dan tidak ada transparasi dana ataupun rincian yang jelas, terlebih lagi kenaikan biaya dikenai ketika ditengah perjalanan masa pendidikan dan itu tanpa kompromi dengan dalih ini dan itu. Maka nyatalah sudah komersialisasi pada sistem pendidikan. Sudah seperti bensin saja, bukan?

2. Pendidik yang kurang berkualitas

Pengajar tentunya menjadi sorotan penting dalam dunia pendidikan, karenanya kapasitas pengajar harus pula diperhatikan oleh lembaga pendidikan agar menjadi panutan dari peserta didiknya.

Selain itu secara administratif pun harus diperhatikan.Jika guru SD saja sudah S1 maka apa kata dunia bila diperguruan tinggi masih terdapat tenaga pengajar yang hanya S1. Sangat ironis bukan? Hal demikianlah yang membuat kecewa peserta didik, dikarenakan ini sudah menjadi standarisasi pada lembaga pendidikan formal.

3. Minimnya fasilitas pendukung

Fasilitas yang menunjang itu menjadi bahan tolak ukur kepedulian terhadap peserta didik. Maksud dari fasilitas bukan hanya terlihat dari gedung yang mewah melainkan dilihat dari fasilitas pendukung proses belajar mengajar. Tanpa gedung yang mewah pun kualitas pendidikan bisa saja terwujud pada semestinya. Contoh, jika peserta didik di jurusan mesin maka ada ruang praktek mesin, jika teknik sipil maka ada ruang praktek ilmu sipil. Jurusan yang sekiranya memerlukan praktek itu yang memerlukan fasilitas pendukung, bukan sekadar belajar teori di dalam kelas dan mengagung-agungkan gedung yang katanya “mewah”.

Minat peserta didik pun harus tersalurkan dengan tepat, itulah yang mampu menunjang kreativitas perserta didik. Dalam ilmu ushul fiqih pun dikatakan.“lilwasail hukmul maqosid”. sarana dan tujuan hukumnya sama. Jangan cuma berfikir melaksanakan suatu pekerjaaan tapi juga berfikir menciptakan sarana untuk terwujudnya pekerjaan itu.

Dari ketiga indikator tersebut sangatlah nampak apabila tiga hal dalam dunia pendidikan itu terjadi maka sudah barang tentu komersialisasi pendidikan sudahlah terlihat nyata dan jelas. Dalam hal demikian dapat saja terjadi dimanapun maka haruslah disikapi dengan tegas, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Pada dasarnya demi meningkatkan pendidikan dikalangan masyarakat tidaklah dengan memungut biaya yang sangat mahal, cukup dengan biaya yang sederhana asalkan bisa menyesuaikannya dan mengolahnya dengan berazaskan manfaat bersama bukan pada keuntungan pemilik lembaga. Gunakanlah hati yang tulus dan ikhlas dalam hal pendidikan.

Salam Pembaharuan!!

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2015/03/04/komersialisasi-pendidikan-704950.html 

 

 

 

 

 

 








    adminsman1

    infosman1


      Apakah anda meyukai tampilan terbaru web SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan ?

          Tidak
          Ya

      Lihat Hasil Poling
    Copyright © 2013 by sman1kotatangsel.com. All rights reserved.